Ibnu Aththoillah Tentang Jaminan Rizki bagi Para Penuntut Ilmu

Rasulullah saw bersabda:
“Allah menjamin rezeki bagi orang yang menuntut ilmu.”
Ketahuilah, kata ilmu yang berulang kali disebutkan dalam Al-Quran atau As-Sunah maksudnya adalah ilmu yang bermanfaat serta memunculkan rasa takut kepada Allah swt.
“…Sesungguhnya yang takut (khasyia’) kepada Allah di antara hamba-Nya hanyalah mereka yang berilmu (al-’ulama).” (QS Fathir [35]:28)

Allah menjelaskan bahwa rasa takut (khasyia’) selalu menyertai ilmu. Jadi, kaum yang berilmu adalah orang-orang yang memiliki rasa takut. Allah juga berfirman, “Orang-orang yang diberi ilmu berkata.” (QS. An-Nahl[16]:27)
Juga, “Orang-orang yang mendalam ilmunya.” (QS.Ali Imran[3]:7)
Serta, “Katakanlah, ‘Wahai Tuhan, tambahkanlah kepadaku ilmu.” (QS.ThaaHaa[20]:114)

Nabi saw bersabda, “Malaikat merendahkan sayapnya untuk orang yang sedang menuntut ilmu.”

Beliau saw juga bersabda, “Al-Ulama adalah pewaris para nabi.”
Nah, maksud Rasulullah saw adalah Allah menjamin rezeki bagi orang-orang yang menuntut ilmu, dan itu ilmu-ilmu yang bermanfaat serta bisa mengendalikan hawa nafsu dan syahwat kita.

Pengertian itulah yang paling sesuai untuk memaknai firman Allah dan sabda Rasulullah saw tersebut. Kami (Syaikh Ibnu Aththoillah) telah menjelaskan hal ini dalam kitab kami yang lain. Ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang membantu hamba untuk mentaati Allah swt, yang mendatangkan rasa takwa kepada-Nya, serta membuat kita bisa menjaga batas-batas-Nya, ilmu yang menjadikan hamba mengenal-Nya.
Jadi, ilmu yang bermanfaat mencakup ilmu tentang Allah dan ilmu yang Allah perintahkan untuk kita pelajari dengan pertolongan-Nya.

Maksud sabda Rasulullah saw yang berbunyi, “Allah menjamin rezeki bagi orang yang menuntut ilmu..” Adalah bahwa Allah memberi jaminan untuk bisa sampai kepada-Nya dengan segala kemudahan, kemuliaan, serta selamat dari keterhijaban. Itulah tafsiran kami.

Jaminan yang dimaksud dalam hadis tersebut bersifat khusus, karena Allah telah menjamin rezeki seluruh hamba-Nya, baik yang menuntut ilmu maupun yang tidak. Dalilnya adalah karena Rasulullah saw menyebutkannya secara khusus. []

Sumber Tulisan:

Diketik ulang dari buku Mengapa Harus Berserah, panduan menyenangi Setiap Kenyataan (terjemah dari kitab Al-Tanwir fi Isqath Al-Tadbir karya Ibnu Aththoillah), Penerbit Serambi, Jakarta, 2006

Sumber Gambar:

http://bukutasawuf.files.wordpress.com/2009/11/mengapaharusberserahibnathaillahal-sakandari-1.jpg?w=170&h=266

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>