Sahabats,
Setelah kita belajar merenungkan dan berjuang mengamalkannya setahap demi setahap hikmah-hikmah yang penuh kedalaman makna dari seorang shiddiqin , yaitu Syaikh Ibnu Aththoillah ra. marilah kita melanjutkannya ke hikmah berikutnya.
Dengan membaca Bismillahirrahmannirahim, serta kalau sahabat-sahabat tidak berkeberatan mengirimkan fadhillah/keutamaan bacaan QS. Al-Fatihah kepada Sang Syaikh Ibnu Aththoillah, Ustadz Salim Bahreisy dan Syeikh Fadhlala Haeri, mari kita awali kajian dan renungan kita.
______________________________________________________
Hikmah 15
“Di antara bukti-bukti yang menunjukkan adanya kekuasaan Allah yang luar biasa, ialah dapat menghijab engkau dari melihat kepada-Nya dengan hijab yang tidak wujudnya (yakni: bayangan-bayangan hijab) di sisi Allah.”
Syarah Ustadz Salim Bahreisy ra:
Sepakat para arifin, bahwa segala sesuatu selain Allah itu tidak ada, artinya: tidak dapat disamakan adanya sebagaimana adanya Allah, sebab adanya alam terserah kepada karunia Allah, bagaikan adanya bayangan yang tergantung selalu kepada benda yang membayanginya. Maka siapa yang melihat bayangan dan tidak melihat kepada yang membayanginya, di sinilah justru hijabnya.
Firman Allah:
“..Segala sesuatu rusak hancur, kecuali wajah-Nya…” (QS.Al-Qashas[28]:88)
Rasulullah saw membenarkan perkataan pujangga yang berkata:
“Camkanlah, bahwa segala sesuatu selain Allah itu palsu belaka.
Dan tiap nikmat kesenangan dunia, pasti akan rusak lenyap.”
Sedangkan syarah dari Syaikh Fadhlala Haeri ra:
Sesuatu selain Allah adalah ilusi sepintas lalu dan tabir, serta gambaran-gambaran yang berkerlap-kerlip. Segala sesuatu di dunia ini berasal dari-Nya, dipelihara oleh-Nya, dan akan kembali kepadanya.
Bagaimana pun alam panca indra adalah rahmat yang bersifat kontemporer dan titik awal untuk naik menuju Allah. Sesungguhnya tak ada sesuatu pun selain-Nya dan segala sesuatu yang selain-Nya adalah sebuah refleksi atau, yang menunjukkan pancaran nur-Nya yang Ahad. Dikatakan, orang-orang yang menyadari bahwa makhluk tidak mempunyai kekuatan yang berdiri sendiri untuk bertindak maka ia telah menang, dan barangsiapa yang memandang makhluk tidak mempunyai kehidupan yang bebas maka ia telah mencapai Allah, dan orang yang memandang bahwa bahwa makhluk itu tidak ada, maka ia telah sampai kepada-Nya.[]
Sumber Tulisan:
1. Terjemah Al Hikam Ibnu Aththoillah oleh Ustadz Salim Bahreisy, Penerbit Balai Buku, Surabaya, 1980.
2. Buku 264 Petuah Ruhaniah Ibn Ata’illah Komentar oleh Syekh Fadhlalla Haeri, Pustaka Sufi, Yogyakarta, 2003.
Sumber Gambar:
1. http://serambitashawuf.files.wordpress.com/2011/01/alhikam1.jpg


a>





